Active Topics

Tadabbur Kalamullah

Tazkirah Berkaitan Hadith

Moderator: yatiyusof

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Brigadier General
Brigadier General
Malaysia
Posts in topic: 17
Posts: 4101
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 76 times
Gender:

PINGAT

Tadabbur Kalamullah

Post by zylajasmine » Mon Jan 14, 2019 9:37 am

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌
*🕋 Tadabbur Kalamullah 🕋*
🕌📚 *Siri 159* 📚🕌
✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

*السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّــــــــــهِ وَبَرَكَاتُهُ*
*بِسۡـــــــــمِ ٱللَّــــــــــهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ*

_*Inilah Janji yang telah diikat teguh terpatri sejak azali...*_
_*Wahai diri yang selalu lalai dan lupa! Bukankah, selalu kau mengungkapkan janji....*_

ْ *إنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ*

_*“…Sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekelian alam”*_
( QS. al-an'aam : 162 )

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

🕋 *2. AL-BAQARAH* 🕋
✍🏽 *286 AYAT* ✍🏽

📕📚 *AYAT 224 - 225* 📚📕

*وَلا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لأيْمَانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (224) لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ (225)

Ertinya :
_*"Janganlah kalian jadikan (nama) Allah dalam sumpah kalian sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertaqwa, dan mengadakan islah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kalian disebabkan (sumpah kalian) yang disengaja (untuk bersumpah) dalam hati kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun"*_

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

📚✍🏽 *TAFSIRAN* ✍🏽📚

Allah Swt. berfirman bahwa janganlah kalian menjadikan sumpah-sumpah kalian atas nama Allah menghalang- halangi kalian untuk berbuat kebajikan dan silaturahmi, jika kalian bersumpah untuk tidak melakukannya. Perihalnya sama dengan ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

وَلا يَأْتَلِ أُولُوا الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبى وَالْمَساكِينَ وَالْمُهاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah; dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian?"
(An-Nur: 22)

Berpegang teguh pada sumpah yang demikian, pelakunya beroleh dosa. Karena itu, ia harus melepaskan sumpahnya dan membayar kifarat. 
Seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahih Bukhari: 

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَر، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، قَالَ: هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: "نَحْنُ الْآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"،

telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Hammam ibnu Munabbih yang mengatakan bahwa kaiimat berikut merupakan hadis yang diceritakan kepada kami oleh Abu Hurairah r.a. dari Nabi Saw., yaitu bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: "Kami (umat Muhammad) adalah orang-orang yang terakhir (adanya), tetapi orang-orang yang paling dahulu (masuk surga) di hari kiamat."

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "وَاللَّهِ لَأَنْ يلجَّ أَحَدُكُمْ بِيَمِينِهِ فِي أَهْلِهِ آثمُ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ أَنْ يُعطي كَفَّارَتَهُ الَّتِي افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْهِ".

Rasulullah Saw. bersabda pula: "Demi Allah, sesungguhnya seseorang dari kalian berpegang teguh pada sumpahnya terhadap keluarganya menjadi orang yang berdosa menurut Allah daripada dia membayar kifarat yang telah diwajibkan oleh Allah atas sumpahnya itu."

Demikian pula apa yang diriwayatkan oleh Muslim dari Muhammad ibnu Rafi', dari Abdur Razzaq dengan lafaz yang sama. Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Muhammad ibnu Rafi'.
Kemudian Imam Bukhari mengatakan: 

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ، هُوَ ابْنُ سَلَّامٍ، عَنْ يَحْيَى، وَهُوَ ابْنُ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنِ اسْتَلَجَّ فِي أَهْلِهِ بِيَمِينٍ، فَهُوَ أَعْظَمُ إِثْمًا، لَيْسَ تُغْنِي الْكُفَّارَةُ".

telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah (yaitu Ibnu Salam), dari Yahya (yaitu ibnu Abu Kasir), dari Ikrimah, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:  "Barang siapa yang bersitegang terhadap keluarganya dengan sumpahnya, maka perbuatan itu dosanya amat besar, kifarat tidak cukup untuk menutupinya."

Menurut riwayat yang lain, hendaklah ia melanggar sumpahnya, lalu membayar kifarat.
Ali ibnu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: "Janganlah kalian jadikan (nama) Allah dalam sumpah kalian sebagai penghalang.(Al-Baqarah: 224) Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna ayat ialah 'janganlah kamu jadikan sumpahmu menghalang-halangi dirimu untuk berbuat kebaikan, tetapi bayarlah kifarat sumpahmu itu dan berbuatlah kebaikan'.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Masruq, Asy-Sya'bi, Ibrahim, An-Nakha'i, Mujahid, Tawus, Sa'id ibnu Jubair, Ata, lkrimah, Makhul, Az-Zuhri, Al-Hasan, Qatadah, Muqatil ibnu Hayyan, Ar-Rabi' ibnu Anas, Ad-Dahhak, Ata Al-Kurrasani, dan As-Saddi rahimahumullah. 
Pendapat mereka diperkuat oleh sebuah hadis di dalam kitab Sahihain: 

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنِّي وَاللَّهِ -إِنْ شَاءَ اللَّهُ -لَا أَحْلِفُ عَلَى يَمِينٍ فَأَرَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَتَيْتُ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَتَحَلَّلْتُهَا"

dari Abu Musa Al-Asy'ari r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Sesungguhnya aku, demi Allah, insya Allah, tidak sekali-kali mengucapkan sumpah, kemudian aku memandang bahwa hal lain lebih baik darinya, melainkan aku akan melakukan hal yang lebih baik itu dan aku ber-tahallul dari sumpahku (dengan membayar kifarat)."

Telah disebutkan pula di dalam kitab Sahihain bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada Abdur Rahman ibnu Samurah:

"يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا، وَإِنَّ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ خَيْرًا مِنْهَا فَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ وَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ".

"Hai Abdur Rahman ibnu Samurah, janganlah kamu meminta imarah (jabatan), karena sesungguhnya jika kamu aku beri imarah tanpa ada permintaan dari pihakmu, niscaya aku akan membantunya. Dan jika kamu diberi karena meminta, maka imarah itu sepenuhnya atas tanggung jawabmu sendiri. Dan apabila kamu mengucapkan suatu sumpah, lalu kamu melihat hal yang lain lebih baik daripada sumpahmu itu, maka kerjakanlah hal yang lebih baik darinya dan bayarlah kifarat sumpahmu."

Imam Muslim meriwayatkan melalui Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ، وَلْيَفْعَلِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ".

"Barang siapa yang mengucapkan suatu sumpah, lalu ia melihat hal lainnya lebih baik daripada sumpahnya, maka hendaklah ia membayar kifarat sumpahnya dan melakukan hal yang lebih baik itu."

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ، حَدَّثَنَا خَلِيفَةُ بْنُ خَيَّاطٍ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَتَرْكُهَا كَفَّارَتُهَا".

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id maula Bani Hasyim, telah menceritakan kepada kami Khalifah ibnu Khayyat, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:  "Barang siapa yang mengucapkan suatu sumpah, lalu ia memandang hal lainnya lebih baik daripada sumpahnya, maka meninggalkan sumpahnya itu merupakan kifaratnya."

Imam Abu Daud meriwayatkan melalui jalur Abu Ubaidillah ibnul Akhnas, dari Amr ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: 

"لَا نَذْرَ وَلَا يَمِينَ فِيمَا لَا يَمْلِكُ ابْنُ آدَمَ، وَلَا فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَلَا فِي قَطِيعَةِ رَحِمٍ، وَمَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَلْيَدَعْهَا، وَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ، فَإِنَّ تَرْكَهَا كَفَّارَتُهَا".

"Tiada nazar dan tiada sumpah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam (orang yang bersangkutan), tidak pula dalam maksiat kepada Allah, dan tidak pula dalam memutuskan silaturahmi. Barang siapa yang mengucapkan suatu sumpah, lalu ia memandang hal lainnya lebih baik daripada sumpahnya, maka hendaklah ia meninggalkan sumpahnya dan hendaklah ia melakukan hal yang lebih baik, karena sesungguhnya meninggalkan sumpah merupakan kifaratnya."

Kemudian Imam Abu Daud mengatakan bahwa hadis-hadis yang dari Nabi Saw. semuanya mengatakan:

" فَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ"

Maka hendaklah ia membayar kifarat sumpahnya.
Riwayat inilah yang sahih.

وَقَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ سَعِيدٍ الْكِنْدِيُّ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِر، عَنْ حَارِثَةَ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَمْرَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ حَلَفَ عَلَى قَطِيعَةِ رَحِمٍ أَوْ مَعْصِيَةٍ، فَبِرُّهُ أَنْ يَحْنَثَ فِيهَا وَيَرْجِعَ عَنْ يَمِينِهِ".

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sa'id Al-Kindi, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Misar, dari Harisah ibnu Muhammad, dari Umrah, dari Aisyah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Barang siapa yang mengucapkan suatu sumpah untuk memutuskan silaturahmi dan berbuat maksiat, maka untuk menunaikan sumpahnya itu ialah hendaknya ia melanggarnya dan mencabut kembali sumpahnya."

Hadis ini daif, mengingat Harisah adalah Ibnu Abur Rijal yang dikenal dengan sebutan Muhammad ibnu Abdur Rahman; dia (Harisah) hadisnya tidak dapat dipakai lagi dinilai lemah oleh semuanya.

Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sa'id ibnu Musayyab, Masruq serta Asy-Sya'bi, bahwa mereka mengatakan: Tidak ada sumpah dalam maksiat, dan tidak ada kifarat atasnya. 

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.:

{لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ}

_*"Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah)."*_ (Al-Baqarah: 225)

Yakni Allah tidak akan menghukum kalian dan tidak pula mewajibkan suatu sanksi pun atas diri kalian karena sumpah yang tidak dimaksud untuk bersumpah. Yang dimaksud dengan sumpah yang tidak disengaja ialah kalimat yang biasa dikeluarkan oleh orang yang bersangkutan dengan nada yang tidak berat dan tidak pula dikukuhkan. 

Seperti yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui hadis Az-Zuhri, dari Humaid ibnu Abdur Rahman, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"مَنْ حَلَفَ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: وَاللَّاتِ وَالْعُزَّى، فَلْيَقُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ"

"Barang siapa yang bersumpah, lalu mengatakan dalam sumpah-nya, "Demi Lata dan Uzza," maka hendaklah ia mengucapkan pula, "Tidak ada Tuhan selain Allah."

Hal ini dikatakan oleh Nabi Saw. kepada orang-orang Jahiliah yang baru masuk Islam, sedangkan lisan mereka masih terikat dengan kebiasaannya di masa lalu, yaitu bersumpah menyebut nama Lata tanpa sengaja. Untuk itu mereka diperintahkan mengucapkan kalimah ikhlas, mengingat mereka mengucapkannya tanpa sengaja, dan kalimat terakhir (kalimat tauhid) berfungsi meralat kalimat yang pertama. Karena itulah pada firman selanjutnya disebutkan:

{وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ }

"tetapi Allah menghukum kalian disebabkan (sumpah kalian) yang disengaja (untuk bersumpah) dalam hati kalian."
(Al-Baqarah: 225)

Di dalam ayat yang lain disebutkan:

بِما عَقَّدْتُمُ الْأَيْمانَ

"disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja." 
(Al-Maidah: 89)

Imam Abu Daud di dalam Bab "Sumpah yang Tidak Disengaja" mengatakan: 

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ الشَّامِيُّ حَدَّثَنَا حَسَّانُ -يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ -حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ -يَعْنِي الصَّائِغَ -عَنْ عَطَاءٍ: فِي اللَّغْوِ فِي الْيَمِينِ، قَالَ: قَالَتْ عَائِشَةُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم قَالَ: "هُوَ كَلَامُ الرَّجُلِ فِي بَيْتِهِ: كَلَّا وَاللَّهِ وَبَلَى وَاللَّهِ".

telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Mas'adah Asy-Syami, telah menceritakan kepada kami Hayyan (yakni Ibnu Ibrahim), telah menceritakan kepada kami Ibrahim (yakni As-Saig), dari Ata mengenai sumpah yang tidak disengaja; Siti Aisyah pernah menceritakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: "Sumpah yang tidak disengaja ialah perkataan seorang lelaki di dalam rumahnya, "Tidak demikian, demi Allah; dan memang benar, demi Allah."
Kemudian Abu Daud mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnul Furat, dari Ibrahim As-Saig, dari Ata, dari Siti Aisyah secara mauquf.

Az-Zuhri, Abdul Malik, dan Malik ibnu Magul meriwayatkannya pula, semuanya melalui jalur Ata, dari Siti Aisyah secara mauquf.
Menurut kami, memang demikian telah diriwayatkan oleh Ibnu Juraij, Ibnu Abu Laila, dari Ata, dari Siti Aisyah secara mauquf.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Hannad, dari Waki', Abdah dan Abu Mu'awiyah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya: "Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah)." (Al-Baqarah: 225) Yang dimaksud adalah seperti 'Tidak, demi Allah. Memarig benar, demi Allah'.

Kemudian Ibnu Juraij meriwayatkannya pula dari Muhammad ibnu Humaid, dari Salamah, dari Ibnu Ishaq, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah. 
Hal yang sama diriwayatkan dari Ibnu Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Al-Qasim, dari Siti Aisyah. Hal yang sama diriwayatkan pula dari Ibnu Ishaq, dari Ibnu Abu Nujaih, dari Ata, dari Siti Aisyah, dan perkataan Abdurrazzaq, yaitu Ma'mar telah menceritakan kepada kami dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya:  "Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah kalian yang tidak dimaksud  (untuk bersumpah). (Al-Baqarah: 225).
Siti Aisyah r.a. mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang tergesa-gesa dalam suatu perkara. Maka Abdurrazzaq mengatakan demikian, 'Tidak, demi Allah' dan 'Memang benar, demi Allah' dan 'Tidak demikian, demi Allah', mereka adalah kaum yang tergesa-gesa dalam suatu perkara, tidak ada kesengajaan dalam hati mereka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Harun Ibnu Ishaq Al-Hamdani, telah menceritakan kepada kami Abdah (yakni Ibnu Sulaiman), dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan makna firman-Nya: "Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah)." (Al-Baqarah: 225) Siti Aisyah mengatakan, yang dimaksud adalah seperti perkataan seorang lelaki, Tidak, demi Allah', 'Memang benar demi Allah'.

Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Saleh (juru tulis Al-Lais), telah menceritakan kepadaku ibnu Luhai'ah, dari Abul Aswad, dari Urwah yang menceritakan bahwa Siti Aisyah pernah mengatakan, "Sesungguhnya sumpah yang tidak disengaja itu hanya terjadi pada senda gurau dan berseloroh, yaitu seperti perkataan seorang lelaki, Tidak, demi Allah,', dan 'Ya, demi Allah.' Maka hal seperti itu tidak ada kifaratnya. Sesungguhnya yang ada kifaratnya ialah sumpah yang timbul dari niat hati orang yang bersangkutan untuk melakukannya atau tidak melakukannya."

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, hal yang semisal telah diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas dalam salah satu pendapatnya, Asy-Sya'bi dan Ikrimah dalam salah satu pendapatnya, serta Urwah ibnuz Zubair, Abu Saleh, dan Ad-Dahhak dalam salah satu pendapatnya; juga Abu Qilabah dan Az-Zuhri.

Pendapat yang kedua menyebutkan, telah dibacakan kepada Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku orang yang siqah, dari Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Siti Aisyah, bahwa ia mengemukakan takwilnya sehu-bungan dengan makna firman-Nya:  "Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah)."
(Al-Baqarah: 225) Menurutnya makna yang dimaksud ialah jika seseorang di antara kalian mengemukakan sumpahnya atas sesuatu hal, sedangkan dia tidak bermaksud, melainkan hanya kebenaran belaka, tetapi kenyataannya berbeda dengan apa yang disumpahkannya.

Selanjutnya Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Abbas dalam salah satu pendapatnya, Sulaiman ibnu Yasar, Sa'id ibnu Jubair, Mujahid pada salah satu pendapatnya, Ibrahim An-Nakha'i dalam salah satu pendapatnya, Al-Hasan, Zararah ibnu Aufa, Abu Malik, Ata Al-Khurrasani, Bakr ibnu Abdullah, salah satu pendapat Ikrimah, Habib ibnu Abu Sabit, As-Saddi, Makhul, Muqatil, Tawus, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, Yahya ibnu Sa'id, dan Rabi'ah.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الْحَرَشِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَيْمُونٍ المرالي، حَدَّثَنَا عَوْفٌ الْأَعْرَابِيُّ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ، قَالَ: مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْمٍ يَنْتَضِلُونَ -يَعْنِي: يَرْمُونَ -وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَرَمَى رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ فَقَالَ: أَصَبْتُ وَاللَّهِ وَأَخْطَأْتُ وَاللَّهِ. فَقَالَ الَّذِي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَنِثَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: "كَلَّا أَيْمَانُ الرُّمَاةِ لَغْوٌ لَا كَفَّارَةَ فِيهَا وَلَا عُقُوبَةَ"

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musa Al-Jarasyi, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Maimun Al-Muradi, telah menceritakan kepada kami Auf Al-A'rabi, dari Al-Hasan ibnu Abul Hasan yang menceritakan: Rasulullah Saw. bersua dengan suatu kaum yang sedang berlomba memanah, ketika itu Rasulullah Saw. ditemani oleh salah seorang sahabatnya. Maka berdirilah salah seorang lelaki dari kalangan kaum, lalu ia berkata, "Panahku mengenai sasaran, demi Allah; dan panah yang lainnya melenceng dari sasaran, demi Allah." Maka berkatalah orang yang menemani Nabi Saw. kepada Nabi Saw., "Wahai Rasulullah, lelaki itu telah melanggar sumpahnya." Rasulullah Saw. menjawab, "Tidaklah demikian, sumpah yang diucapkan oleh orang-orang yang memanah merupakan sumpah yang tidak disengaja, tidak ada kifarat padanya, tidak ada pula hukuman."
Hadis ini berpredikat mursal lagi hasan dari Al-Hasan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Siti Aisyah dua pendapat kesemuanya.
Telah menceritakan kepada kami Isam ibnu Rawwad, telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Jabir, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Siti Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sumpah yang tidak disengaja ialah ucapan seseorang, "Tidak, demi Allah; dan memang benar, demi Allah," dia menduga bahwa apa yang dikatakannya itu benar, tetapi kenyataannya berbeda.

Pendapat-pendapat yang lain disebutkan oleh Abdur Razzaq, dari Hasyim, dari Mugirah, dari Ibrahim, bahwa yang dimaksud dengan sumpah yang tidak disengaja ialah seseorang bersumpah atas sesuatu, kemudian ia lupa kepada sumpahnya.

Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa sumpah tersebut adalah seperti ucapan seorang lelaki, "Semoga Allah membutakan penglihatan-ku jika aku tidak melakukan anu dan anu," atau "Semoga Allah melenyapkan hartaku jika aku tidak datang kepadamu besok, yakni hartaku yang ini."

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Musaddad ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Khalid, telah menceritakan kepada kami Ata, dari Tawus, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sumpah yang tidak disengaja ialah sumpah yang kamu ucapkan, sedangkan kamu dalam keadaan emosi.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Jamahir, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Basyir, telah menceritakan kepadaku Abu Bisyr, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sumpah yang tidak disengaja ialah bila kamu mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah bagimu, yang demikian itu tidak ada kifaratnya bagimu jika kamu melanggarnya. Hal yang sama diriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair.
Imam Abu Daud mengatakan di dalam Bab "Sumpah dalam Keadaan Emosi": 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمِنْهَالِ، أَنْبَأَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، حَدَّثَنَا حَبِيبٌ الْمُعَلِّمُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ: أَنَّ أَخَوَيْنِ مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَ بَيْنَهُمَا مِيرَاثٌ، فَسَأَلَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ الْقِسْمَةَ فَقَالَ: إِنْ عُدْتَ تَسْأَلُنِي عَنِ الْقِسْمَةِ، فَكُلُّ مَالِي فِي رِتَاجِ الْكَعْبَةِ. فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: إِنَّ الْكَعْبَةَ غَنِيَّةٌ عَنْ مَالِكَ، كَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَكَلِّمْ أَخَاكَ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "لَا يَمِينَ عَلَيْكَ، وَلَا نَذْرَ فِي مَعْصِيَةِ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا فِي قَطِيعَةِ الرَّحِمِ، وَلَا فِيمَا لَا تَمْلِكُ".

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai', telah menceritakan kepada kami Habib Al-Mu'allim, dari Amr ibnu Syu'aib, dari Sa'id ibnul Musayyab, bahwa ada dua orang bersaudara dari kalangan Ansar, keduanya mempunyai bagian warisan. Lalu salah seorang meminta bagian dirinya kepada saudaranya, kemudian saudaranya berkata, "Jika kamu kembali meminta bagian kepadaku, maka semua hartaku disedekahkan untuk Ka'bah." Maka Khalifah Umar r.a. berkata, "Sesungguhnya Ka'bah tidak memerlukan hartamu. Maka bayarlah kifarat sumpahmu itu dan berbicaralah dengan saudaramu. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: 'Tiada sumpah atas dirimu dan tiada pula nazar dalam maksiat terhadap Allah Swt., tiada pula dalam memutuskan silaturahmi, serta tiada pula dalam apa yang tidak kamu miliki'."

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Adapun firman Allah Swt.: 

*وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ*

_*"tetapi Allah menghukum kalian disebabkan (sumpah kalian) yang disengaja (untuk bersumpah) dalam hati kalian."*_
(Al-Baqarah : 225)

Menurut Ibnu Abbas dan Mujahid serta lainnya yang bukan hanya seorang, yang dimaksud ialah bila seseorang bersumpah atas sesuatu, sedangkan ia mengetahui bahwa dirinya berdusta dalam sumpahnya itu.

Mujahid dan lain-lainnya mengatakan bahwa makna ayat ini sama dengan firman-Nya:

{وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الأيْمَانَ}

tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah yang kalian sengaja.
(Al-Maidah: 89), hingga akhir ayat.

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.:
*وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ*

_*"Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun."*_ 
(Al-Baqarah: 225)

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

*" Tugas anda adalah mengajak orang lain kepada kebaikan dan berusaha anda memperbaiki diri. Bukan dengan alasan belum dapat memperbaiki diri, anda berhenti mengajak orang lain berbuat baik. Yang tak boleh di buat semua, jangan ditinggal semua."*
🕌 _*Habib Ali Zaenal Abidin*_ 🕌

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

*Aku Bukanlah Ustaz*
*Bukan Juga Ulama*
*Aku hanyalah Hamba Allah yang sedang berusaha untuk Menjadi Hamba-NYA yang baik..*

✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽

*🕋📕BERSAMBUNG📕🕋*

📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Brigadier General
Brigadier General
Malaysia
Posts in topic: 17
Posts: 4101
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 76 times
Gender:

PINGAT

Re: Tadabbur Kalamullah

Post by zylajasmine » Mon Jan 14, 2019 12:35 pm

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌
*🕋 Tadabbur Kalamullah 🕋*
🕌📚 *Siri 167* 📚🕌
✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

*السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّــــــــــهِ وَبَرَكَاتُهُ*
*بِسۡـــــــــمِ ٱللَّــــــــــهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ*

_*Inilah Janji yang telah diikat teguh terpatri sejak azali...*_
_*Wahai diri yang selalu lalai dan lupa! Bukankah, selalu kau mengungkapkan janji....*_

ْ *إنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ*

_*“…Sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekelian alam”*_
( QS. al-an'aam : 162 )

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

🕋 *2. AL-BAQARAH* 🕋
✍🏽 *286 AYAT* ✍🏽
📕📚 *AYAT 233* 📚📕

*وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلادَكُمْ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (233)*

Ertinya :
_*"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, iaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan kerana anaknya, dan seorang ayah kerana anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kalian ingin anak kalian disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagi kalian apabila kalian memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kalian kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan."*_

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

📚✍🏽 *TAFSIRAN* ✍🏽📚

Hal ini merupakan petunjuk dari Allah Swt. kepada para ibu, menganjurkan agar mereka menyusui anak-anak mereka dengan penyusuan yang sempurna, yaitu selama dua tahun penuh. Sesudah itu penyusuan tidak berpengaruh lagi terhadap kemahraman. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ}

"Iaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan."
(Al-Baqarah: 233)

Kebanyakan para imam berpendapat bahwa masa penyusuan tidak dapat menjadikan mahram kecuali bila si bayi yang disusui berusia di bawah dua tahun. Untuk itu seandainya ada anak yang menyusu kepada seorang wanita, sedangkan usianya di atas dua tahun, maka penyusuan itu tidak menjadikan mahram baginya.

Di dalam bab hadis yang mengatakan bahwa penyusuan tidak menjadikan mahram pada diri seorang anak kecuali bila usianya di bawah dua tahun, Imam Turmuzi mengatakan:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ الْمُنْذِرِ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَا يُحَرِّمُ مِنَ الرِّضَاعِ إِلَّا مَا فَتَقَ الْأَمْعَاءَ فِي الثَّدْيِ، وَكَانَ قَبْلَ الْفِطَامِ".

telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari Fatimah bintil Munzir, dari Ummu Salamah yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:  "Persusuan tidak menjadikan mahram kecuali susuan yang dilakukan langsung pada tetek lagi mengenyangkan perut dan terjadi sebelum masa penyapihan."

Hadis ini hasan sahih. Hal inilah yang diamalkan di kalangan kebanyakan ahlul ilmi dari kalangan sahabat Rasulullah Saw. dan lain-lainnya. Yaitu bahwa penyusuan tidak menjadi mahram kecuali bila dilakukan dalam usia di bawah dua tahun, sedangkan penyusuan yang dilakukan sesudah usia genap dua tahun, hal ini tidak menjadikan mahram sama sekali. Fatimah bintil Munzir ibnuz Zubair ibnul Awwam adalah isteri Hisyam ibnu Urwah.

Menurut kami, hanya Imam Turmuzi sendiri yang mengetengahkan riwayat hadis ini, sedangkan para rawinya bersyaratkan Sahihain. Makna sabda Nabi Saw. yang mengatakan, "Illa ma kana fis sadyi,'" ialah kecuali susuan yang dilakukan pada tetek sebelum usia dua tahun. Seperti yang terdapat di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Waki' dan Gundar, dari Syu'bah, dari Addi ibnu Sabit, dari Al-Barra ibnu Azib yang menceritakan bahwa ketika Ibrahim ibnu Nabi Saw. meninggal dunia, Nabi Saw. bersabda:

"إن لَهُ مُرْضِعًا فِي الْجَنَّةِ"

"sesungguhnya dia mempunyai orang yang menyusukannya di dalam syurga."

Hal yang sama diketengahkan oleh Imam Bukhari melalui hadis Syu'bah. Sesungguhnya Nabi Saw. bersabda demikian tiada lain karena putra beliau yang bernama Ibrahim a.s. wafat dalam usia dua puluh dua bulan. Kerana itulah beliau Saw. bersabda: "sesungguhnya dia mempunyai orang yang menyusukannya di dalam sy
urga."
Yakni yang akan menggenapkan masa persusuannya. Pengertian ini diperkuat oleh sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Daruqutni melalui jalur Al-Haisam ibnu Jamil, dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Amr ibnu Dinar, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"لا يُحَرِّمُ مِنَ الرَّضَاعِ إِلَّا مَا كَانَ فِي الْحَوْلَيْنِ"

"Tiada yang menjadikan mahram kerana persusuan kecuali yang dilakukan sebelum usia dua tahun."

Kemudian Imam Daruqutni mengatakan, tiada yang menyandarkannya kepada Ibnu Uyaynah selain Al-Haisam ibnu Jamil, tetapi Al-Haisam orangnya siqah lagi hafiz (hafal hadis).

Menurut kami, hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Malik di dalam kitab Muwatta', dari Saur ibnu Yazid, dari Ibnu Abbas secara marfu'. Imam Darawardi meriwayatkannya pula dari Saur, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, yang di dalam riwayatnya ditambahkan seperti berikut:

«وَمَا كَانَ بَعْدَ الْحَوْلَيْنِ فَلَيْسَ بِشَيْءٍ»

"Dan persusuan yang terjadi sesudah usia dua tahun tidak mempunyai pengaruh apa pun."
Riwayat ini lebih sahih.

Abu Daud At-Tayalisi meriwayatkan melalui Jabir yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

«لَا رَضَاعَ بَعْدَ فِصَالٍ، وَلَا يُتْمَ بَعْدَ احْتِلَامٍ»

"Tiada penyusuan lagi sesudah masa penyapihan, dan tiada status yatim sesudah usia baliq."

Penunjukan makna yang diketengahkan oleh hadis ini menjadi lebih sempurna dengan adanya firman Allah Swt. yang mengatakan:

وَفِصالُهُ فِي عامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي

"dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepada-Ku." 
(Luqman: 14)

وَحَمْلُهُ وَفِصالُهُ ثَلاثُونَ شَهْراً

"Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan." 
(Al-Ahqaf: 15)

Pendapat yang mengatakan bahwa persusuan sesudah usia dua tahun tidak menjadikan mahram diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Jabir, Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ummu Salamah, Sa'id ib-nul Musayyab, dan Ata serta jumhur ulama. Pendapat inilah yang dipegang oleh mazhab Syafii, Imam Ahmad, Ishaq, AS-Sauri, Abu Yusuf, Muhammad, dan Malik dalam salah satu riwayatnya.

Menurut riwayat yang lain dari Imam Malik juga disebutkan bahwa masa persusuan itu adalah dua tahun dua bulan, dan menurut riwayat yang lainnya lagi yaitu dua tahun tiga bulan.
Imam Abu Hanifah mengatakan, masa penyusuan adalah dua setengah tahun. Zufar ibnul Huzail mengatakan bahwa selagi si anak masih mau tetap menyusu, maka batas maksimanya adalah tiga tahun; pendapat ini merupakan salah satu riwayat dari Al-Auza'i.

Imam Malik mengatakan, "Seandainya seorang anak telah disapih dari penyusuan sebelum usia dua tahun, lalu ada seorang wanita menyusukannya setelah disapih, maka penyusuan kali ini tidak menjadikan mahram, karena persusuan saat itu disamakan kedudukannya dengan makanan." Pendapat ini pun merupakan suatu riwayat lain dari Al-Auza'i.
Telah diriwayatkan dari Umar r.a. dan Ali r.a., bahwa keduanya pernah mengatakan, "Tiada persusuan sesudah penyapihan." Maka kalimat ini diinterpretasikan bahwa keduanya bermaksud usia dua tahun, sama halnya dengan pendapat jumhur ulama, yakni baik telah disapih ataupun belum. Akan tetapi, dapat pula diinterpretasikan bahwa keduanya bermaksud kenyataannya. Dengan demikian, berarti sama dengan apa yang dikatakan oleh Imam Malik.

Telah diriwayatkan di dalam kitab Sahihain, dari Siti Aisyah r.a.; ia berpendapat bahwa penyusuan anak yang sudah besar mempunyai pengaruh pula dalam kemahraman. Pendapat inilah yang dipegang oleh Ata ibnu Abu Rabah dan Al-Lais ibnu Sa'd. Tersebutlah bahwa Siti Aisyah r.a. selalu memerintahkan kepada orang yang ia pilih boleh masuk ke dalam rumahnya untuk menemui wanita-wanita yang ada di dalam asuhannya, untuk menyusu kepadanya terlebih dahulu. Siti Aisyah r.a. berpendapat demikian kerana berdasarkan kepada hadis yang mengisahkan masalah Salim maula Abu Huzaifah. Nabi Saw. memerintahkan kepada isteri Abu Huzaifah untuk menyusukan Salim, sedangkan Salim ketika itu sudah besar. Setelah itu Salim bebas menemui isteri Abu Huzaifah berkat penyusuan tersebut. Akan tetapi isteri-isteri Nabi Saw. yang lainnya (selain Siti Aisyah r.a.) tidak mau melakukan hal tersebut, mereka berpendapat bahwa peristiwa Salim tersebut termasuk hal yang khusus. Pendapat inilah yang dianut oleh jumhur ulama.

Hujah yang dipegang oleh jumhur ulama —mereka terdiri atas para imam yang empat orang, ulama ahli fiqih yang tujuh orang, para sesepuh sahabat, dan isteri-isteri Nabi Saw. selain Siti Aisyah r.a.— ialah sebuah hadis yang ditetapkan di dalam kitab Sahihain dari Siti Aisyah, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

"انظرْنَ مِنْ إِخْوَانِكُنَّ، فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ الْمَجَاعَةِ"

"Perhatikanlah oleh kalian (kaum wanita) siapakah saudara-saudara kalian, kerana sesungguhnya persusuan itu hanyalah karena kelaparan."

Mengenai masalah persusuan dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah anak yang sudah besar menyusu, akan dibahas dalam tafsir firman-Nya:

وَأُمَّهاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ

"dan ibu-ibu kalian yang menyusukan kalian."
(An-Nisa: 23) 

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.:

*{وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ}*

_*"Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf."*_
(Al-Baqarah: 233)

Yakni diwajibkan atas orang tua si anak memberi nafkah dan sandang ibu anaknya dengan cara yang makruf, yakni menurut tradisi yang berlaku bagi semisal mereka di negeri yang bersangkutan tanpa berlebih-lebihan, juga tidak terlalu minima. Hal ini disesuaikan dengan kemampuan pihak suami dalam hal kemampuan ekonominya, kerana ada yang kaya, ada yang pertengahan, ada pula yang miskin. Seperti yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْراً

"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan."
(At-Talaq: 7)

Ad-Dahhak mengatakan, "Apabila seseorang menceraikan isterinya, sedangkan ia telah punya anak dari isterinya itu yang masih dalam masa penyusuan, maka ia wajib memberi nafkah dan sandang kepada isterinya yang telah diceraikan itu dengan cara yang makruf (selama bekas isterinya itu masih menyusukan anaknya)." 

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.: 

*{لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا}*

_*"Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan kerana anaknya."*_ 
(Al-Baqarah: 233)

Yakni misalnya pihak si ibu menyerahkan bayi itu kepada pihak ayah si bayi untuk menimpakan kemudaratan terhadap pihak ayah si bayi kerana diharuskan memeliharanya. Pihak ibu tidak boleh menyerahkan si bayi yang telah dilahirkannya (kepada suaminya) sebelum menyusukannya yang pada kebanyakan si bayi tidak dapat hidup melainkan dengan susu ibunya. Setelah masa penyusuan telah habis, maka pihak ibu si bayi baru diperbolehkan menyerahkan bayinya itu kepada ayah si bayi jika pihak ibu berkenan. Sekalipun demikian, jika hal tersebut mengakibatkan pihak ayah si bayi menderita kesengsaraan kerana harus memelihara bayinya, maka pihak ibu tidak boleh menyerahkan bayinya itu kepada ayah si bayi. Sebagaimana tidak dihalalkan bagi pihak ayah si bayi merampas bayi dari tangan ibunya hanya semata-mata untuk menimpakan kesengsaraan kepada pihak ibu si bayi. Karena itu, maka Allah Swt. berfirman:

{وَلا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ}

"dan (janganlah menderita kesengsaraan) seorang ayah kerana anaknya."
(Al-Baqarah: 233)

Yaitu misalnya ayah si anak (bayi) ingin merampas anak dari tangan ibunya dengan tujuan menyengsarakan ibunya.
Demikianlah menurut penafsiran Mujahid, Qatadah, Ad-Dahhak, Az-Zuhri,As-Saddi, As-Sauri, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya.

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.:

*{وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ}*

_*"dan waris pun berkewajiban demikian."*_
(Al-Baqarah: 233)

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud ialah tidak boleh menimpakan mudarat kepada ahli waris (kaum kerabat) pihak ayah si bayi. Demikianlah pendapat Mujahid, Asy-Sya'bi, dan Ad-Dahhak.
Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah 'kepada ahli waris diwajibkan hal yang. sama dengan apa yang diwajibkan atas ayah si bayi, yaitu memberi nafkah kepada ibu si bayi, memenuhi semua hak-haknya, dan tidak menimpakan mudarat kepadanya'. Penakwilan yang terakhir ini menurut jumhur ulama. Hal ini telah dibahas secara rinci oleh Ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya.

Ayat ini dijadikan dalil oleh kalangan mazhab Hanafi dan mazhab Hambali yang mengatakan bahwa kaum kerabat wajib memberi nafkah sebagian di antara mereka kepada sebagian lainnya. Pendapat ini bersumber dari riwayat yang diceritakan oleh Umar ibnul Khattab r.a. dan kebanyakan ulama Salaf. Kemudian hal ini diperkuat dengan adanya hadis Al-Hasan, dari Samurah secara marfu', yaitu:

مَنْ مَلَكَ ذَا رَحِمٍ مَحْرَمٍ عُتِق عَلَيْهِ

"Barang siapa yang memiliki orang yang masih kerabat lagi mahram dengannya, maka ia harus memerdekakannya."

Telah disebutkan bahwa persusuan atau rada'ah sesudah usia dua tahun adakalanya menimpakan kesengsaraan terhadap pihak anak, barangkali pada tubuhnya atau akalnya. Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, bahwa ia pernah melihat seorang ibu yang menyusukan anaknya sesudah si anak berusia dua tahun, maka ia berkata kepada si ibu tersebut, "Janganlah kau susui dia!"

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.:

*{فَإِنْ أَرَادَا فِصَالا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا}*

_*"Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya."*_
(Al-Baqarah: 233)

Dengan kata lain, apabila pihak ayah dan ibu si bayi sepakat untuk menyapih anaknya sebelum si anak berusia dua tahun, dan keduanya memandang bahwa keputusan inilah yang mengandung maslahat bagi diri si bayi, serta keduanya bennusyawarah terlebih dahulu untuk itu dan membuahkan kesepakatan, maka tidak ada dosa atas keduanya untuk melakukan hal tersebut.
Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa bila salah satu pihak saja yang melakukan hal ini dinilai kurang cukup, dan tidak boleh bagi salah satu pihak dari keduanya memaksakan kehendaknya dalam hal ini tanpa persetujuan dari pihak yang lainnya. Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh As-Sauri dan lain-lainnya. Pendapat ini mengandung sikap preventif bagi si bayi demi kemaslahatannya; dan hal ini merupakan rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya, mengingat Dia telah menetapkan keharusan bagi kedua orang tua untuk memelihara anak mereka berdua, dan memberikan bimbingan kepada apa yang menjadi maslahat bagi kedua orang tua, juga maslahat si anak. Seperti yang diungkapkan di dalam surat At-Talaq melalui firman-Nya:

فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ وَأْتَمِرُوا بَيْنَكُمْ بِمَعْرُوفٍ وَإِنْ تَعاسَرْتُمْ فَسَتُرْضِعُ لَهُ أُخْرى

"Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak) kalian untuk kalian, maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan bermusyawarahlah di antara kalian (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kalian menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya." 
(At-Talaq: 6)

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.:

*{وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلادَكُمْ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ}*

_*"Dan jika kalian ingin anak kalian disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagi kalian apabila kalian memberikan pembayaran menurut yang patut."*_
(Al-Baqarah: 233)

Apabila ibu dan ayah si bayi sepakat bahwa masalah persusuan si bayi diserahkan kepada pihak ayah, adakalanya kerana pihak ibu si bayi berhalangan menyusukannya atau adakalanya halangan dari pihak bayinya, maka tidak ada dosa bagi keduanya dalam masalah penyerahan bayi mereka. Bukan merupakan suatu keharusan bagi pihak ayah untuk menerima penyerahan itu bilamana ia telah menyerahkan kepada pihak ibu upah penyusuan si bayi dengan cara yang lebih baik, lalu si bayi disusukan wanita lain dengan upah tersebut. Pengertian ini sudah tidak asing lagi. Demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh ulama yang bukan hanya satu orang.

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.:

*{وَاتَّقُوا اللَّهَ}*

_*"Bertaqwalah kalian kepada Allah."*_
(Al-Baqarah: 233) 
Yakni dalam semua keadaan kalian.

*{وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}*

_*"dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan."*_ 
(Al-Baqarah: 233)

Artinya, tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya dari sepak terjang dan semua ucapan kalian.

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

*" Tugas anda adalah mengajak orang lain kepada kebaikan dan berusaha anda memperbaiki diri. Bukan dengan alasan belum dapat memperbaiki diri, anda berhenti mengajak orang lain berbuat baik. Yang tak boleh di buat semua, jangan ditinggal semua."*
🕌 _*Habib Ali Zaenal Abidin*_ 🕌

✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽

*Aku Bukanlah Ustaz*
*Bukan Juga Ulama*
*AKu hanyalah Hamba Allah yang sedang berusaha untuk Menjadi Hamba-NYA yang baik..*

✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽

*🕋📕BERSAMBUNG📕🕋*

📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Brigadier General
Brigadier General
Malaysia
Posts in topic: 17
Posts: 4101
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 76 times
Gender:

PINGAT

Re: Tadabbur Kalamullah

Post by zylajasmine » Thu Jan 17, 2019 9:59 pm

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌
*🕋 Tadabbur Kalamullah 🕋*
🕌📚 *Siri 169* 📚🕌
✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

*السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّــــــــــهِ وَبَرَكَاتُهُ*
*بِسۡـــــــــمِ ٱللَّــــــــــهِ ٱلرَّحۡـمَـٰنِ ٱلرَّحِـــــــيمِ*

_*Inilah Janji yang telah diikat teguh terpatri sejak azali...*_
_*Wahai diri yang selalu lalai dan lupa! Bukankah, selalu kau mengungkapkan janji....*_

ْ *إنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ*

_*“…Sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekelian alam”*_
( QS. al-an'aam : 162 )

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

🕋 *2. AL-BAQARAH* 🕋
✍🏽 *286 AYAT* ✍🏽
📕📚 *AYAT 235* 📚📕

*وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا إِلا أَنْ تَقُولُوا قَوْلا مَعْرُوفًا وَلا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ (235)*

Ertinya ;
_*"Dan tidak ada dosa bagi kalian meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kalian menyembunyikan (keinginan mengahwini mereka) dalam hati kalian. Allah mengetahui bahawa kalian akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kalian mengadakan janji kahwin dengan mereka secara rahsia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) perkara yang makruf. Janganlah kalian ber-'azam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis idahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hati kalian; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahawa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun."*_

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

📚✍🏽 *TAFSIRAN* ✍🏽📚

Firman Allah Swt.:
*{وَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ}*

"Dan tidak ada dosa bagi kalian." 
(Al-Baqarah: 235)

Yakni untuk melamar wanita-wanita yang ditinggal mati oleh suami mereka dalam idahnya secara sindiran (tidak terangan).

As-Sauri, Syu'bah,dan Ibnu Jarir serta lain-lainnya meriwayatkan dari Mansur, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Tidak ada dosa bagi kalian meminang wanita-wanita itu dengan sindiran. (Al-Baqarah: 235) Yang dimaksud dengan istilah ta'rid atau sindiran ialah bila seorang lelaki mengatakan, "Sesungguhnya aku ingin kawin, dan sesungguhnya aku ingin mengawini seorang wanita yang anu dan anu sifatnya," dengan kata-kata yang telah dikenal. Menurut suatu riwayat, contoh kata-kata sindiran lamaran ialah seperti, "Aku ingin bila Allah memberiku rezeki (mengawinkan aku) dengan seorang wanita," atau kalimat yang bermakna; yang penting tidak boleh menyebutkan pinangan secara tegas kepadanya.
Menurut riwayat yang lain ialah, "Sesungguhnya aku tidak ingin kawin dengan seorang wanita selainmu, insya Allah." Atau "Sesungguhnya aku berharap dapat menemukan seorang wanita yang saleh." Akan tetapi, seseorang tidak boleh menegaskan lamarannya kepada dia selagi dia masih dalam idahnya.
Imam Bukhari meriwayatkan secara ta'liq. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepadanya Talq ibnu Ganam, dari Zaidah, dari Mansur, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Dan tidak ada dosa bagi kalian meminang wanita-wanita itu dengan sindiran. (Al-Baqarah: 235) Yang dimaksud dengan sindiran ialah bila seseorang lelaki mengatakan, "Sesungguhnya aku ingin kawin. Sesungguhnya wanita benar-benar merupakan hajatku. Aku berharap semoga dimudahkan untuk mendapat wanita yang soleh."

Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid, Tawus, Ikrimah, Sa'id ibnu Jubair, Ibrahim An-Nakha'i, Asy-Sya'bi, Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, Yazid ibnu Qasit, Muqatil ibnu Hayyan, dan Al-Qasim ibnu Muhammad serta sejumlah ulama Salaf dan para imam sehubungan dengan masalah ta'ridatau sindiran ini. Mereka mengatakan, boleh melakukan pinangan secara sindiran kepada wanita yang ditinggal mati oleh suaminya.

Hal yang sama berlaku pula terhadap wanita yang ditalak bain, yakni boleh melamarnya dengan kata-kata sindiran, seperti yang telah dikatakan oleh Nabi Saw. kepada Fatimah binti Qais ketika diceraikan oleh suaminya Abu Amr ibnu Hafs dalam talak yang ketiga. Nabi Saw. terlebih dahulu memerintahkan Fatimah binti Qais untuk melakukan idahnya di dalam rumah Ibnu Ummi Maktum, lalu bersabda kepadanya:

"فَإِذَا حَلَلْت فَآذِنِينِي". فَلَمَّا حلَّتْ خَطَبَ عَلَيْهَا أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ مَوْلَاهُ، فزَوّجها إِيَّاهُ

Apabila kamu telah halal (boleh nikah), maka beritahulah aku. Ketika masa idah Fatimah binti Qais telah habis, maka ia dilamar oleh Usamah ibnu Zaid (pelayan Nabi Saw.), lalu Nabi Saw. mengawinkan Fatimah binti Qais dengan Usamah.
Wanita yang diceraikan, tidak ada perselisihan pendapat di kalangan ulama, bahwa tidak boleh bagi selain suaminya melakukan lamaran secara terang-terangan, tidak boleh pula secara sindiran.

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.:

{أَوْ أَكْنَنْتُمْ فِي أَنْفُسِكُمْ}

_*"atau kalian menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hati kalian."*_ 
(Al-Baqarah: 235)

Yakni kalian memendam keinginan untuk melamar mereka menjadi istri kalian. Perihalnya sama dengan makna firman-Nya:

وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَما يُعْلِنُونَ

_*"Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan."*_ 
(Al-Qashash: 69)

وَأَنَا أَعْلَمُ بِما أَخْفَيْتُمْ وَما أَعْلَنْتُمْ

_*"Aku lebih mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan."*_ 
(Al-Mumtahanah: 1)

Kerana itulah maka Allah Swt. berfirman dalam ayat selanjutnya:

{عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ سَتَذْكُرُونَهُنَّ}

Allah mengetahui bahwa kalian akan menyebut-nyebut mereka. 
(Al-Baqarah: 235)

Yakni di dalam hati kalian. Maka Allah menghapus dosa dari kalian kerana hal tersebut. Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَلَكِنْ لَا تُوَاعِدُوهُنَّ سِرًّا}

"tetapi janganlah kalian mengadakan janji kahwin dengan mereka secara rahsia." 
(Al-Baqarah: 235)

Menurut Abu Mijlaz, Abu Sya'sa Jabir ibnu Zaid, Al-Hasan Al-Basri, Ibrahim An-Nakha'i, Qatadah, Ad-Dahhak, Ar-Rabi ibnu Anas, Sulai-man At-Taimi, Muqatil ibnu Hayyan, dan As-Saddi, makna yang dimaksud ialah zina. Dan ini adalah makna riwayat Al-Aufa dari Ibnu Abbas, dan Ibnu Jarir telah memilihnya; 

Ali ibnu Abu Talhah mengatakan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: "Tetapi janganlah kalian mengadakan janji kahwin dengan mereka secara rahsia." (Al-Baqarah: 235) Yakni janganlah kamu katakan kepadanya, "Sesungguhnya aku cinta kepadamu. Berjanjilah kamu bahawa kamu tidak akan kahwin dengan lelaki selainku," atau kalimat-kalimat lain yang semisal.

Hal yang sama diriwayatkan pula dari Sa'id ibnu Jubair, Asy-Sya'bi, Ikrimah, Abud Duha, Ad-Dahhak, Az-Zuhri, Mujahid, dan As-Sauri, yaitu bila si lelaki mengambil janji darinya agar dia tidak kahwin dengan orang lain selain dirinya.
Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa yang dimaksud dengan janji rahsia ialah ucapan seorang lelaki kepada wanita yang bersangkutan, "Janganlah engkau biarkan dirimu terlepas dariku, kerana sesungguhnya aku akan mengahwinimu."

Qatadah mengatakan, yang dimaksud ialah bila seorang lelaki mengambil janji dari seorang wanita yang masih berada dalam idah-nya, yang isinya mengatakan, "Janganlah kamu kahwin dengan selainku nanti."

Maka Allah melarang hal tersebut dan melakukannya, tetapi dia menghalalkan lamaran dan ucapan secara makruf.
Ibnu Zaid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: "Tetapi janganlah kalian mengadakan janji kahwin dengan mereka secara rahsia." (Al-Baqarah: 235) Yakni bila si lelaki mengahwininya secara rahsia, sedangkan dia masih berada dalam idah. Lalu sesudah si wanita halal untuk kahwin, barulah si lelaki itu mengumumkannya.

Akan tetapi, barangkali makna ayat tersebut lebih menyeluruh daripada semuanya itu. Karena itulah disebutkan dalam firman selanjutnya:

{إِلا أَنْ تَقُولُوا قَوْلا مَعْرُوفًا}

"kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang makruf." 
(Al-Baqarah: 235)

Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, As-Saddi, As-Sauri, dan Ibnu Zaid, makna yang dimaksud ialah apa yang sebelumnya diperbolehkan, yaitu melakukan lamaran secara sindiran, seperti ucapan, "Sesungguhnya aku berhasrat kepadamu," atau kalimat-kalimat lain yang semisal.

Muhammad ibnu Sirin mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ubaidah tentang makna firman-Nya: 
"kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang makruf."  (Al-Baqarah: 235) Yaitu bila si lelaki berkata kepada wali si wanita, "Janganlah engkau mendahulukan orang lain daripada aku untuk memperolehnya," yakni aku mahu mengahwininya, beri tahukanlah aku lebih dahulu. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.:

{وَلا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّى يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ}

_*"Dan janganlah kalian ber-'azam (bertetap hati) untuk berakad nikah sebelum habis idahnya."*_
(Al-Baqarah: 235)

Yang dimaksud dengan Al-Kitab ialah idah, yakni janganlah kalian melakukan akad nikah dengannya sebelum masa idahnya habis.

Ibnu Abbas, Mujahid, Asy-Sya'bi, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, Abu Malik, Zaid ibnu Aslam, Muqatil ibnu Hayyan, Az-Zuhri, Ata Al-Khurrasani, As-Saddi, As-Sauri, dan Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: 
"sebelum habis masa idahnya."  (Al-Baqarah: 235) Yakni janganlah kalian melakukan akad nikah sebelum idahnya habis. 

Para ulama sepakat bahwa tidak sah melakukan akad nikah dalam masa idah. Tetapi mereka berselisih pendapat mengenai masalah seorang lelaki yang mengahwini seorang wanita dalam idahnya, lalu si lelaki menggaulinya, kemudian keduanya dipisahkan. Maka apakah wanita tersebut haram bagi lelaki yang bersangkutan untuk selama-lamanya? Sehubungan dengan masalah ini ada dua pendapat di kalangan para ulama.

Jumhur ulama berpendapat bahwa si wanita tidak haram baginya, melainkan pihak lelaki boleh melamarnya kembali bila idah si wanita telah habis.

Imam Malik berpendapat bahwa si wanita haram bagi pihak lelaki untuk selama-lamanya. Ia mengatakan demikian berdalilkan sebuah asar yang diriwayatkan dari Ibnu Syihab dan Sulaiman ibnu Yasar yang menceritakan bahawa Khalifah Umar r.a. pernah mengatakan, 'Wanita mana pun yang melakukan perkahwinan di dalam idahnya, jika suami yang kahwin dengannya belum menggaulinya, maka keduanya dipisahkan, lalu si wanita melakukan sisa idah dari suaminya pertama, sedangkan si lelaki dianggap sebagai salah seorang pelamarnya. Akan tetapi, jika suaminya yang baru ini telah menggaulinya, maka keduanya dipisahkan, lalu si wanita menjalani sisa idah dari suami pertamanya, setelah itu ia harus melakukan idah lagi dari suaminya yang kedua. Setelah selesai, maka si wanita haram bagi lelaki tersebut untuk selama-lamanya."
Mereka mengatakan, diputuskan demikian mengingat ketika si suami mempercepat masa tangguh yang telah ditetapkan oleh Allah, maka ia dihukum dengan hal yang kebalikan dari niatnya, untuk itu si wanita diharamkan atas dirinya untuk selama-lamanya. Perihalnya sama dengan seorang pembunuh yang diharamkan dari hak mewarisi (harta peninggalan si terbunuh).

Imam Syafii meriwayatkan asar ini dari Imam Malik. Imam Baihaqi mengatakan bahwa kemudian Imam Syafii di dalam qaul jadid-nya merevisi pendapat yang telah ia katakan dalam qaul qadim-nya.. Kerana ada pendapat yang mengatakan bahwa si wanita halal bagi lelaki tersebut. Menurut hemat saya, kemudian asar ini hanya sampai pada Ibnu Umar. As-Sauri telah meriwayatkan dari Asy'as, dari Asy-Sya'bi, dari Masruq, bahwa Khalifah Umar r.a. menarik kembali keputusannya itu, lalu menjadikan bagi pihak wanita maskawinnya, kemudian menjadikan keduanya dapat bersatu lagi.

🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑🛑

Firman Allah Swt.:

{وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ}

_*"Dan ketahuilah bahawasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hati kalian; maka takutlah kepada-Nya."*_
(Al-Baqarah: 235)

Allah memperingatkan mereka tentang apa yang ada di dalam hati mereka menyangkut masalah wanita, dan memberikan bimbingan kepada mereka agar menyembunyikan niat yang baik dan menjauhi keburukan. Kemudian Allah tidak membuat mereka berputus asa dari rahmat-Nya dan ampunan-Nya, untuk itulah maka Allah Swt. berfirman dalam ayat selanjutnya:

{وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ}

"Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun." 
(Al-Baqarah: 235)

✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌✍🏽📌

*" Tugas anda adalah mengajak orang lain kepada kebaikan dan berusaha anda memperbaiki diri. Bukan dengan alasan belum dapat memperbaiki diri, anda berhenti mengajak orang lain berbuat baik. Yang tak boleh di buat semua, jangan ditinggal semua."*
🕌 _*Habib Ali Zaenal Abidin*_ 🕌

✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽

*Aku Bukanlah Ustaz*
*Bukan Juga Ulama*
*AKu hanyalah Hamba Allah yang sedang berusaha untuk Menjadi Hamba-NYA yang baik..*

✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽

*🕋📕BERSAMBUNG📕🕋*

📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕✍🏽📕
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Brigadier General
Brigadier General
Malaysia
Posts in topic: 17
Posts: 4101
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 76 times
Gender:

PINGAT

Re: Tadabbur Kalamullah

Post by zylajasmine » Tue Jan 22, 2019 2:03 pm

السلا م عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
TANYALAH USTAZ TV9(Da'i Luqman&Ustaz Ahmad Husni Abd.Rahman)
*SURAH AL~IKHLAS*
•••••••••••••••••••••••••••••
- سُوۡرَةُ الإخلاص

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰن ٱلرَّحِيمِ

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ (١) ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ (٢) لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ (٣) وَلَمۡ يَكُن لَّهُ ۥ ڪُفُوًا أَحَدٌ (٤)
“Katakanlah : (Tuhanku) ialah Allah Yang Maha Esa. (1) Allah Yang menjadi tumpuan sekalian makhluk untuk memohon sebarang hajat. (2) Dia tiada beranak dan Dia pula tidak diperanakkan (3) Dan tidak ada sesiapapun yang serupa denganNya. (4)”

Surah ini dinamakan Surah Al~Ikhlas kerana bicarakan kesucian tauhid hanya pada Allah.
HANYA HARAP PERHATIAN ALLAH.
Surah ini surah yg disukai oleh Allah dan disukai oleh manusia.
SURAH INI SURAH MAKIAH.
Surah ini surah 112 dalam Al~Quran.
Nabi akan baca Al~Ikhlas dimana~mana solat.
Nabi baca surah Al~Ikhlas sebelum tidur,pagi dan petang.
Sebelum merawat org sakit juga boleh baca surah Al~Ikhlas.
ADA IMAM DI ZAMAN NABI YG SUKA BACA SURAH AL~IKHLAS DALAM SOLAT KERANA SURAH INI ADA SIFAT² AR~RAHMAN DAN NABI KATA ALLAH SAYANG PADA DIA.

SURAH INI DITURUNKAN KERANA ORG² QURISH SANGAT BERBANGGA DGN NASAB KETURUNAN(mereka akan kata Tuhan kami dibuat dari emas)
Org kafir tanya Nabi jelaskan nasab Tuhan kamu.
Nabi jawab empat ayat (surah Al~Ikhlas) iaitu kata wahai Muhammad Allah ini esa.
Semua makhluk berhajat pada Allah samada org itu kafir atau beriman.
Manusia tak sempurna, hanya Allah yg sempurna.
Allah tidak perlu anak dan tak berhajat pada anak.
Allah tidak diperanakkan.
Allah tidak ada sesuatu yg setara denganNya.
KITA TAK BOLEH BANDINGKAN TUHAN DGN APA² PUN.
Allah bersifat paling sabar.

KITA MANUSIA BIASA TAK BOLEH NAK CIPTA WALAUPUN SEBUTIR BERAS SEKALI PUN.
SEMUA DARI ALLAH TAK ADA SEBANDING DAN SETARA DGN ALLAH.

MANUSIA MENCARI~CARI MAKSUD TUHAN.
DAN MEREKA MENGATAKAN YG TAK BENAR TENTANG TUHAN.
MANUSIA TAK MAMPU MELAKUKAN SESUATU SEHEBAT TUHAN.

BACA SURAH AL~IKHLAS SEBANYAK 3KALI SUDAH MEMADAI SEPERTI KHATAM AL~QURAN,MOHON PENJELASAN USTAZ.
Nabi kata baca surah Al~Ikhlas sekali bersamaan sepertiga Al~Quran,jika baca 3kali bersamaan khatam Al~Quran.
Surah ini pahalanya banyak.
JANGAN MEREMEHKAN SURAH INI.
Org yg mencintai surah ini,Nabi kata wajib baginya syurga.
INILAH HIKMAH UTK UMAT ZAMAN SEKARANG.

BENARKAH DGN BACA SURAH AL~IKHLAS BOLEH KELUARKAN IBLIS DALAM BADAN DAN WAKTU MANA YG BAGUS BACA SURAH INI SELAIN DARI DALAM SOLAT?
Surah ini boleh berlindung dari segala~galanya.
Baca sebelum tidur seperti yg Nabi buat.
Baca 3Qul tiup ditapak tangan dan sapu diseluruh badan.
Baca 3Qul pagi dan petang sebanyak 3kali,Allah lindung dari segala keburukkan.
Boleh baca dimana~mana.
JADIKAN SEBAGAI SATU KELAZIMAN UTK DIBACA SETIAP HARI.

APAKAH ORG YG SENTIASA MELAKUKAN DOSA, ITU BERMAKNA DIA TAK KENAL TUHAN?
Ya,ini kerana dia belum mengenal Tuhan.

SURAH AL~IKHLAS PENAWAR SEGALA PENYAKIT.
PERLU JAGA KESIHATAN WALAUPUN DAH AMALKAN SURAH AL~IKHLAS.
TAK BOLEH HANYA BACA SURAH AL~IKHLAS TAPI TAK JAGA KESIHATAN.
SURAH AL~IKHLAS SEBAGAI TAWAKKAL DAN KITA WAJIB BERUSAHA UTK JAGA KESIHATAN.

APAKAH KAITAN SURAH AL~IKHLAS,AL~FALAQ DAN AN~NAS?
Sesiapa beramal dgn surah ini boleh masuk mana² syurga.
Siapa yg maafkan pembunuh,Siapa yg selesaikan hutang org secara senyap² dan sesiapa yg baca surah Al~Ikhlas sepuluh kali.
JGN BERMALASAN UTK BERAMAL DGN 3QUL.
Lebih afdal apa yg Nabi buat kita ikut.

BAGAIMANA NAMA SURAH AL~IKHLAS DIBERI BERSABIT DGN AYAT²NYA?
Kerana cerita dalam surah ini tentang Allah dan kita ikhlaskan buat amalan kerana Allah.
Ikhlas ialah satu tapisan iman supaya iman kita jernih betul² kerana Allah.
Siapa yg bercita~cita nak berjumpa Allah hendaklah dia beramal soleh dan jangan syirik pada Allah.
JANGAN BERAMAL SELAIN DARI ALLAH.

BOLEHKAH ORG YG MELAKUKAN DOSA DAN DIA KATA ITU KERANA KEHENDAK ALLAH?
Ini bahaya.
Ini kerana meletakkan semua pada Tuhan.
Buat dosa pun dia salahkan Tuhan.
Hingga tak ada usaha nak jadi baik.
KITA BOLEH MEMILIH NAK SYURGA ATAU NERAKA.
Tak boleh salahkan semua takdir Allah kerana Allah telah beri kita AKAL.

SERULAH PADA SESIAPA PUN
قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ
HIKMAH HANYA UTK PERKENALKAN TENTANG ALLAH.
SURAH INI BOLEH UTK KITA DAKWAHKAH KEPADA ORG BUKAN ISLAM.
SURAH INI PENYEBAB RAMAI ORG MASUK ISLAM.

SIAPAKAH PULA PENCIPTA ALLAH,BOLEHKAH KITA TERFIKIR BEGINI?
Berpegang pada Al~Quran dan sunnah dan jangan cari diluar kotak fikiran kita yg tak mampu difikirkan.
FIKIR TENTANG KEJADIAN ALLAH DAN BERHENTI FIKIR YG TAK MAMPU DIFIKIR.
INI SEMUA SOALAN² YG DISOAL OLEH SYAITAN UTK MENYESATKAN KITA DAN MENJAUHKAN KITA DARI ALLAH.

BILA AJAR ILMU AKIDAH MATLAMATNYA UTK KENAL TUHAN BUKAN FIKIR BAGAIMANA WUJUDNYA TUHAN.

SURAH INI SURAH YG AGONG.
SURAH INI BILA DIBACA KITA AKAN RASA RENDAH DIRI KERANA ALLAH YG MAHA HEBAT.
ORG KAYA DAN ORG HINA SEMUA BERHAJAT PADA ALLAH.
KITA MINTA IKHLASKAN TAUHID KITA HANYA PADA ALLAH.

#InShaaAllah_Aamiin
#BiarTahuJanganKeliru
C&P
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Brigadier General
Brigadier General
Malaysia
Posts in topic: 17
Posts: 4101
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 76 times
Gender:

PINGAT

Re: Tadabbur Kalamullah

Post by zylajasmine » Wed Jan 23, 2019 2:57 pm

☆Tadabbur Kalamullah 11 Rabiul Akhir 1440H☆

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) mencemuh dan merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) boleh jadi puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) boleh jadi puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka..." [Surah al-Hujurat 11]

#Antara fenomena buruk yang sedang berlegar dalam masyarakat hari ini ialah budaya hina menghina, kecam mengecam, cemuh mencemuh dan maki memaki.

#Sabda Nabi saw:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Cukuplah seseorang berbuat keburukan/kejahatan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Imam Muslim)

#Sehari dua ni semakin menjadi-jadi budaya buruk ini sehingga jenazah (orang yang sudah meninggal) juga menjadi sasaran hinaan dan cemuhan. Sedangkan Nabi saw sangat melarang menghina orang yang sudah meninggal dunia. Sabda nabi saw:

لَا تَسُبُّوا الأََموَاتِ فَإِنَّهُم قَد أَفضَوا إِلَى مَا قَدَّموا

"Janganlah mencaci maki orang yang telah mati. Sebab mereka telah mendapat balasan atas perbuatan yang mereka lakukan" (HR al-Bukhari)

#Perbuatan mencaci dan mencemuh orang yang telah mati hanya akan menyakiti orang-orang yang masih hidup sama ada ahli keluarganya ataupun sahabat-sahabatnya.

#Dalam kitab al-Mustadrak Imam al-Hakim menceritakan: "Suatu hari seseorang menyebut keburukan ayah Abbas (paman Nabi) yang telah lama mati, maka Abbas menampar wajahnya. Ahli keluarga orang yang ditampar itu lalu berkumpul untuk menuntut keadilan. Mereka menginginkan agar Abbas dikenakan hukuman atas perbuatan tersebut. Baginda lalu bersabda: "Siapakah manusia yang paling mulia di sisi Allah?" Mereka menjawab: "Anda, wahai Rasulullah." Baginda bersabda lagi: "Sesungguhnya Abbas adalah sebahagian daripada diriku, dan aku sebahagian daripadanya. Janganlah engkau mencela orang yang telah mati daripada kami sebab ia akan menyakitkan orang yang hidup."

♡Islam mengajar kita adab dan perilaku yang mulia kepada siapa sahaja termasuk terhadap orang yang sudah mati. Antara adab itu ialah tidak celupar mulut dalam bicara apatah lagi kepada orang yang telah meninggal dunia. Sebaiknya doakan keampunan dan kebaikan agar mereka diampuni dan damai di alam sana (barzakh)♡

@Dakwah_Itu_Cinta 🌹
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

User avatar
Nursahirah74
Junior Moderator
Junior Moderator
Brigadier General
Brigadier General
Malaysia
Posts in topic: 2
Posts: 3728
Joined: Thu Nov 22, 2018 3:35 pm
Mood:
Has thanked: 19 times
Gender:

PINGAT

Re: Tadabbur Kalamullah

Post by Nursahirah74 » Sun Jan 27, 2019 12:09 am

zylajasmine wrote:
Wed Jan 23, 2019 2:57 pm
☆Tadabbur Kalamullah 11 Rabiul Akhir 1440H☆

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) mencemuh dan merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) boleh jadi puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) boleh jadi puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka..." [Surah al-Hujurat 11]

#Antara fenomena buruk yang sedang berlegar dalam masyarakat hari ini ialah budaya hina menghina, kecam mengecam, cemuh mencemuh dan maki memaki.

#Sabda Nabi saw:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Cukuplah seseorang berbuat keburukan/kejahatan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Imam Muslim)

#Sehari dua ni semakin menjadi-jadi budaya buruk ini sehingga jenazah (orang yang sudah meninggal) juga menjadi sasaran hinaan dan cemuhan. Sedangkan Nabi saw sangat melarang menghina orang yang sudah meninggal dunia. Sabda nabi saw:

لَا تَسُبُّوا الأََموَاتِ فَإِنَّهُم قَد أَفضَوا إِلَى مَا قَدَّموا

"Janganlah mencaci maki orang yang telah mati. Sebab mereka telah mendapat balasan atas perbuatan yang mereka lakukan" (HR al-Bukhari)

#Perbuatan mencaci dan mencemuh orang yang telah mati hanya akan menyakiti orang-orang yang masih hidup sama ada ahli keluarganya ataupun sahabat-sahabatnya.

#Dalam kitab al-Mustadrak Imam al-Hakim menceritakan: "Suatu hari seseorang menyebut keburukan ayah Abbas (paman Nabi) yang telah lama mati, maka Abbas menampar wajahnya. Ahli keluarga orang yang ditampar itu lalu berkumpul untuk menuntut keadilan. Mereka menginginkan agar Abbas dikenakan hukuman atas perbuatan tersebut. Baginda lalu bersabda: "Siapakah manusia yang paling mulia di sisi Allah?" Mereka menjawab: "Anda, wahai Rasulullah." Baginda bersabda lagi: "Sesungguhnya Abbas adalah sebahagian daripada diriku, dan aku sebahagian daripadanya. Janganlah engkau mencela orang yang telah mati daripada kami sebab ia akan menyakitkan orang yang hidup."

♡Islam mengajar kita adab dan perilaku yang mulia kepada siapa sahaja termasuk terhadap orang yang sudah mati. Antara adab itu ialah tidak celupar mulut dalam bicara apatah lagi kepada orang yang telah meninggal dunia. Sebaiknya doakan keampunan dan kebaikan agar mereka diampuni dan damai di alam sana (barzakh)♡

@Dakwah_Itu_Cinta 🌹



Saya nak tanya cemuh tu apa 😕😕 :?: :?:
💕 Ara 💕

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Brigadier General
Brigadier General
Malaysia
Posts in topic: 17
Posts: 4101
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 76 times
Gender:

PINGAT

Re: Tadabbur Kalamullah

Post by zylajasmine » Sun Feb 03, 2019 3:40 pm

332 of 365 🗓 RABU 💕 20 RABI’UL AWAL 1440H 28 November 2018

Bismillahir Rahmanir Rahiim...

Assalamualaikum dan Selamat Pagi

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه وسلم

Setiap hari yang datang adalah hari yang berharga.

Semoga kita senantiasa berada dalam rahmat, taufik dan hidayah Nya

┈••✾•◆❀◆•✾••┈•┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈

TAKUTNYA MANUSIA PADA KEMISKINAN
PADA PENYAKIT, BALA, HURU HARA, DAN MENINGGAL DUNIA,
MELEBIHI TAKUT PADA PENCIPTANYA:

Manusia Makhluk sempurna yang Allah cipta
Dengan susunan raga anggota
Diberi akal sebagai penimbang tara
Diberi hati untuk melahirkan rasa
Diberi perasaan untuk daya usaha
Diberi kitab sebagai pedoman hidupnya
Diberi ingatan sebagai panduannya
Diutus Nabi untuk diikutinya

Manusia juga diberi kehormatan yang mulia
Diantara segala makhluk yang ada
Dianugerah daya kepandaian mengendali makhluk dunia
Diberi kepandaian mendidik sesama manusia
Diberi daya kepandaian mejinak binatang merbahaya
Diberi kepandaian membuat kenderaan motor kereta
Diberi kepandaian untuk merentasi laut dan udara
Diberi kebijaksanaan mencipta berbagai peralatan senjata

Tapi sayang manusia itu bersikap sombong dan lupa
Segala alat yang ada diakui dialah yang mencipta
Dialah yang bijaksana membangun teknologi dunia
Manusia berani bangun mendabit dada
Akulah doktor yang banyak menyelamatkan nyawa
Tak ada seorangpun yang mengaku segala kemajuan itu Allah yang cipta
Sedarkah kamu wahai semua manusia
Yang kamu lihat dan kamu guna dan kamu rasa itu Allah yang cipta

Sungguh anehnya sikap manusia
Cepat lupa siapa dirinya dan siapa pula penciptanya
Dulu kamu tidak ada kemudian diada
Sebelum kamu lahir dunia ini telah dicipta
Tapi kamu dilahirkan dengan memiliki rasa
Jika kamu melupai pada pencipta,
Kerana kamu telah menjadi mabuk gila
Gila dipukau oleh sihir dunia
Gila dengan keindahan panorama
Gila berangan hidup selamanya
Gila ingin memiliki segala yang memikat pandangan mata
Gila ingin memiliki perhiasan emas permata
Dengan rasa gila tamak haloba mengumpul harta dan benda
Dengan tak ada rasa takut dengan terjadinya dosa
Demi kaya
Demi harta
Demi bergaya
Halal dan haram tak pernah diambil kira
Tak pernah ada rasa takut dengan ancaman Neraka
Tak pernah rasa takut dengan peringatan dari yang Maha Esa

Anehnya manusia yang diberi bijaksana
Yang diberi akal dan juga rasa
Tak pernah terfikir untuk takut pada penciptanya
Cuma segelintir manusia yang takut pada terjadinya dosa
Takut dengan azab balasan seksa dineraka

Kebanyakan manusia yang paling ditakuti terjadi padanya
Takut pada kemiskinan terjadi dalam hidupnya
Takut pada segala penyakit yang akan memimpanya
Takut pada kematian yang akan menghilangkan nikmat didunia

Sedarkah kamu siapa yang cipta segalanya?
Selayaknya kamu kamu yang berakal takut pada yang mengada segala
Yang mengadakan keadaan miskin dan bala
Yang mengadakan segala penyakit pada makhluknya
Yang mengadakan mati pada hidup manusia

ALLAH LAH TUHAN....
YANG MENGADA SEGALA KEADAAN
MENGADA KEKAYAAN DAN KEMISKINAN
MENGADAKAN KESIHATAN DAN KESAKITAN
MENGADAKAN KEHIDUPAN DAN KEMATIAN
MAKA WUJUDLAH RASA TAKUTMU HANYA KEPADA TUHAN

•══◎◎♡◎◎══•

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta berilah rahmat kepada kedua-duanya, sebagaimana mereka mendidikku pada waktu kecil. Amin.

🎋سبحان الله 🌻الحمد لله🌺لا اله إلا الله 🌼الله اكبر🎋

🌸🌸🌸
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Brigadier General
Brigadier General
Malaysia
Posts in topic: 17
Posts: 4101
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 76 times
Gender:

PINGAT

Re: Tadabbur Kalamullah

Post by zylajasmine » Sun Feb 03, 2019 3:41 pm

Nursahirah74 wrote:
Sun Jan 27, 2019 12:09 am
zylajasmine wrote:
Wed Jan 23, 2019 2:57 pm
☆Tadabbur Kalamullah 11 Rabiul Akhir 1440H☆

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sesuatu puak (dari kaum lelaki) mencemuh dan merendah-rendahkan puak lelaki yang lain, (kerana) boleh jadi puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula sesuatu puak dari kaum perempuan mencemuh dan merendah-rendahkan puak perempuan yang lain, (kerana) boleh jadi puak yang dicemuhkan itu lebih baik daripada mereka..." [Surah al-Hujurat 11]

#Antara fenomena buruk yang sedang berlegar dalam masyarakat hari ini ialah budaya hina menghina, kecam mengecam, cemuh mencemuh dan maki memaki.

#Sabda Nabi saw:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Cukuplah seseorang berbuat keburukan/kejahatan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim” (HR Imam Muslim)

#Sehari dua ni semakin menjadi-jadi budaya buruk ini sehingga jenazah (orang yang sudah meninggal) juga menjadi sasaran hinaan dan cemuhan. Sedangkan Nabi saw sangat melarang menghina orang yang sudah meninggal dunia. Sabda nabi saw:

لَا تَسُبُّوا الأََموَاتِ فَإِنَّهُم قَد أَفضَوا إِلَى مَا قَدَّموا

"Janganlah mencaci maki orang yang telah mati. Sebab mereka telah mendapat balasan atas perbuatan yang mereka lakukan" (HR al-Bukhari)

#Perbuatan mencaci dan mencemuh orang yang telah mati hanya akan menyakiti orang-orang yang masih hidup sama ada ahli keluarganya ataupun sahabat-sahabatnya.

#Dalam kitab al-Mustadrak Imam al-Hakim menceritakan: "Suatu hari seseorang menyebut keburukan ayah Abbas (paman Nabi) yang telah lama mati, maka Abbas menampar wajahnya. Ahli keluarga orang yang ditampar itu lalu berkumpul untuk menuntut keadilan. Mereka menginginkan agar Abbas dikenakan hukuman atas perbuatan tersebut. Baginda lalu bersabda: "Siapakah manusia yang paling mulia di sisi Allah?" Mereka menjawab: "Anda, wahai Rasulullah." Baginda bersabda lagi: "Sesungguhnya Abbas adalah sebahagian daripada diriku, dan aku sebahagian daripadanya. Janganlah engkau mencela orang yang telah mati daripada kami sebab ia akan menyakitkan orang yang hidup."

♡Islam mengajar kita adab dan perilaku yang mulia kepada siapa sahaja termasuk terhadap orang yang sudah mati. Antara adab itu ialah tidak celupar mulut dalam bicara apatah lagi kepada orang yang telah meninggal dunia. Sebaiknya doakan keampunan dan kebaikan agar mereka diampuni dan damai di alam sana (barzakh)♡

@Dakwah_Itu_Cinta 🌹



Saya nak tanya cemuh tu apa 😕😕 :?: :?:
Hina ara. Mencemuh. Menghina. Maksud yang sama
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Brigadier General
Brigadier General
Malaysia
Posts in topic: 17
Posts: 4101
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 76 times
Gender:

PINGAT

Re: Tadabbur Kalamullah

Post by zylajasmine » Sun Feb 03, 2019 4:08 pm

333 of 365 🗓 KHAMIS 💕 21 RABI’UL AWAL 1440H 29 November 2018

Bismillahir Rahmanir Rahiim...

Assalamualaikum dan Selamat Pagi

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه وسلم

Setiap hari yang datang adalah hari yang berharga.

Semoga kita senantiasa berada dalam rahmat, taufik dan hidayah Nya

┈••✾•◆❀◆•✾••┈•┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈

USIA YANG BERBAKI

Jangan BERLALU pergi
Daripada Hari Hari merugi
Baik berbuat bakti
Demi negeri Yang abadi

Kerana Allah ILAHI
Kita baca
Kita dengar

Kita fikir
Kita muhasabah

Kita ingat
Kita beramal

Kita buang keburukan
Kita perbuat kebaikan.

Kita kena ingat kita duduk di bawah rencana Allah SWT. Ketentuan itu sudah ditetapkan

Tiada gunanya kita mencari jalan yang boleh mendatangkan kemurkaan Allah SWT

Maulana Saad Al - kandahlawi berkata

Seekor lebah yang kecil, bila dia fikir untuk hasilkan madu yang akan memberikan kesembuhan dan kebaikan, maka Allah akan berikan dia ilham untuk cari bunga yang cantik, harum dan ada pati madu.

Apa lagi jika seorang manusia yang ada fikir untuk berikan kebaikan kepada orang ramai, Allah juga akan berikan ilham-ilham dan jalan-jalan yang baik-baik kepadanya

Imam Al-Ghazali dalam kitab Kimia
As-Sa'adah menyatakan:

"Selama hidup di dunia ini, manusia harus menjalankan dua hal penting, yakni melindungi dan memelihara jiwanya, serta merawat dan mengembangkan jasadnya. .

Jiwa akan terpelihara dengan pengetahuan
dan cinta kepada Allah Sebaliknya, jiwa akan hancur jika seseorang terserap dalam kecintaan kepada sesuatu selain Allah"

Amal ibadah hakikatnya hidup berhubung dengan Allah, hidup dengan hati yang khusyuk kepada Allah dan hidup sentiasa merasai kehadiran Allah sehingga sehingga merasai bahawa seluruh hidup ini untuk Allah

Justeru itu marilah kita gunakan usia yang masih berbaki ini untuk mentaatiNya.

Usia kita ini tidak lama,
sekejap sahaja
Menunggu saatnya tiba

Setiap hari kita semua sedang dalam perjalanan menuju untuk bertemu ilahi.

Nyawa kita diumpamakan api pelita yang
pada bila bila masa sahaja boleh terpadam

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim,
kurniakanlah kepada kami qudrat dan iradah dalam amal-amal taqarrub kepada-Mu.

•══◎◎♡◎◎══•

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta berilah rahmat kepada kedua-duanya, sebagaimana mereka mendidikku pada waktu kecil. Amin.

🎋سبحان الله 🌻الحمد لله🌺لا اله إلا الله 🌼الله اكبر🎋

🐝🐝🐝
39K050
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

User avatar
zylajasmine
Global Moderator
Global Moderator
Brigadier General
Brigadier General
Malaysia
Posts in topic: 17
Posts: 4101
Joined: Mon Nov 19, 2018 9:03 pm
Mood:
Has thanked: 14 times
Been thanked: 76 times
Gender:

PINGAT

Re: Tadabbur Kalamullah

Post by zylajasmine » Sun Feb 03, 2019 4:34 pm

334 of 365 🗓 JUMAAT 💕 22 RABI’UL AWAL 1440H 30 November 2018

Bismillahir Rahmanir Rahiim...

Assalamualaikum dan Selamat Pagi

اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه وسلم

Setiap hari yang datang adalah hari yang berharga.

Semoga kita senantiasa berada dalam rahmat, taufik dan hidayah Nya

┈••✾•◆❀◆•✾••┈•┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈

NASIHAT UNTUK UMAT AKHIR ZAMAN

Berkata Sayyidil Allamah Al Habib Umar Al Jailani hafizohullah :

• Setiap seorang di akhir zaman ini perlu mengambil berat tentang majlis berselawat ke atas Rasulullah ﷺ dan majlis memperingati Para Salafus Soleh demi untuk mengamankan fikiran yang sangat diperlukan pada akhir zaman.

• Majlis Maulid adalah satu-satu nya solusi untuk seseorang itu membersihkan Hati.

• Menjaga kehormatan sesama manusia.

• Dengan majlis seperti ini dapat menghidupkan PERSAUDARAAN sesama Islam.

• Penyebaran ilmu itu sangat perlu kerana boleh jadi yang mendengar lebih faham dari yang menyampaikan.

• Angkatlah SYIAR Allah Taala seperti majlis-majlis seumpama ini kerana ia merupakan tanda TAQWANYA hati.

• Mendapat bahagian dalam menggembirakan Rasulullah ﷺ ;

Kisah Abdullah ibnu Abbas yang mahu tidur dirumah Rasulullah ﷺ tika masih kecil di rumah Sayyidah Maimunah untuk melihat qiyamullail Baginda ﷺ di malam hari sehingga dapat berwudhuk menyerupai Rasulullah ﷺ dan solat tidak sama saf dengan Rasulullah kerana mengagungkan baginda. Disuruh dekat oleh Rasulullah ﷺ tapi enggan, lalu dijawab ; Engkau adalah Rasulullah ﷺ lalu bergembira Rasulullah ﷺ lalu didoakan ; اللهم فقهه في الدين_

• Mencintai Auliya Allah Taala juga antara syiar Allah Taala

Semoga Allah Taala memberi TAUFIQ kepada kita untuk mengamalkan sesuatu ILMU setelah kita menerimanya inshaAllah. Aamiin.

•══◎◎♡◎◎══•

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta berilah rahmat kepada kedua-duanya, sebagaimana mereka mendidikku pada waktu kecil. Amin.

🎋سبحان الله 🌻الحمد لله🌺لا اله إلا الله 🌼الله اكبر🎋

🌸🌸🌸
*❀﷽❀*
💖🌹ZylaJasmine🌹💖

Post Reply

Return to “Tazkirah”